Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta mengadakan acara sosialisasi budaya baca bertajuk Safari Budaya Membaca. Saya sebagai Bunda Baca Kota Solo berkesempatan menjadi pemateri dan berinteraksi langsung dengan para pelajar yang hadir.
Acara diadakan selama tiga hari yakni pada 19 hingga 21 Oktober 2022. Kegiatan ini dihadiri teman-teman SMP N 5, 19, 23 Surakarta, diharapkan mampu memotivasi para pelajar untuk mau meningkatkan minat baca disela aktivitas bermain gawai setiap harinya.
Perempuan merupakan kelompok rentan dalam era digital, termasuk dalam pemanfaatan internet, baik untuk aktivitas harian maupun untuk berkarya dan digdaya di ruang digital. Internet juga dapat menjadi kanal unggulan dalam mempromosikan potensi perekonomian suatu daerah, seperti potensi produksi UMKM.
Untuk itulah, sebagai upaya untuk mengambil bagian dalam peningkatan kapasitas masyarakat di bidang Literasi Digital, Sara Neyrhiza menjadi salah satu narasumber dalam acara Roadshow & Workshop Literasi Digital dengan tema "Perempuan #MakinCakapDigital Berkarya dan Digdaya" yang diikuti oleh 300 peserta pelaku UMKM secara offline dan online. Sara membawakan materi mengenai Praktik Etika dalam Branding dan Marketing. Acara ini diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger di House of Danar Hadi, Surakarta pada tanggal 7 September 2022.
Bersama Komunitas Blogger Daerah yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, harapannya setelah mengikuti workshop ini peserta dapat meningkatkan literasi digital dalam mengoptimalkan branding serta marketing dalam wirausahanya.
Let's Read, merupakan salah satu aplikasi penyedia buku digital yang memiliki variasi buku dalam berbagai bahasa. Hanya dengan menginstal aplikasi Let's Read di gawai, pembaca dapat menemukan buku yang dapat disesuaikan dengan jenjang membaca anak. Setiap buku dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik, yang pastinya menyenangkan untuk digunakan sebagai media storytelling maupun reading aloud.
Sabtu, 17 September 2022 kemarin, Lets's Read mengadakan Book Launch untuk 15 buku baru dengan tema "Perempuan Berdaya". Beberapa judul diantaranya yakni Gadis Penyulut Lentera, Bukan Halangan, Kolam Ikan Kakek, Menari Bersama Singa Merah, Kapan Ibu Pulang?, dll, yang sarat akan makna kehidupan meski dekat dengan pengalaman sehari- hari. Meski dilakukan secara daring, acaraa dihadiri oleh guru dan pegiat literasi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Book Launch ini merupakan kolaborasi dari Let's Read, Litara, Yayasan Cahaya Guru dan Read Aloud Indonesia. Dalam acara yang berlangsung selama 2 jam ini, saya mendapatkan kesempatan sebagai moderator untuk sesi diskusi bersama Ibu Henny Supolo Sitepu, Ketua Yayasan Cahaya Guru, yang juga aktif selama lebih dari 35 tahun sebagai praktisi pendidikan. Tema yang dibahas dalam sesi diskusi yakni mengenai Pemanfaatan Buku Cerita Anak dalam Pengembangan Karakter Anak. Materi yang disampaikan Ibu Henny sangat membuka wawasan, akan pentingnya mengenalkan anak sejak dini untuk gemar membaca setiap hari. Dari kisah- kisah dalam buku, anak belajar banyak hal. Mulai dari penguasaan kosa- kata, bonding dengan orang tua, kemampuan berpikir kritis, pengenalan terhadap keberagaman, kesetaraan gender sampai dengan belajar berbudi pekerti yang luhur.
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara di acara Bincang Digital yang diadakan Ruang Guru, kerja sama dengan Kemeterian Komunikasi dan Informatika dan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi. Tema yang saya bawakan mengenai Budaya Digital dan Fenomenanya dalam Masyarakat.
Budaya digital terbentuk dari cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat ketika menggunakan teknologi dan internet. Namun sayangnya, tidak semua orang memahami bagaimana menggunakan teknologi ini secara bijaksana dan beretika. Ketika seseorang memiliki budaya digital yang lemah, maka bisa memunculkan pelanggaran terhadap hak digital orang lain.
Hak digital sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yakni hak untuk mengakses, hak untuk berekspresi dan hak untuk merasa aman (SAFEnet, 2019). Meskipun kita memiliki hak asasi untuk bisa berekspresi di dunia maya, namun kebebasan ini selalu dibatasi oleh hak orang lain. Bebas tetapi tetap berbatas.
Selengkapnya mengenai bahasan ini, bisa ditonton di video berikut.
Tular Nalar adalah sebuah program inisiatif Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Love Frankie dan Ma'arif Institute yang didukung oleh Google. org. Terlibat sebagai fasilitator, pada 28 Juni 2021 saya menjadi narasumber pada webinar Tular Nalar bersama dengan Pondok Pesantren Usuludin Singkawang, Kalimantan Barat.
Pada acara ini saya menjelaskan berbagai fenomena digital yang menuntut kemampuan literasi digital yang mumpuni. Sehingga para pengguna internet, tidak mudah terjebak berbagai informasi hoaks yang mampu memecah belah persatuan negar.
2021, di tengah keinginan untuk terhubung dengan sesama pegiat literasi bahasa lainnya, saya mencoba menghubungi dua orang kawan. Mbak Asri Pujihastuti, Guru SMKN7 Surakarta yang saya kenal ketika mengikuti seleksi Bunda Baca Kota Solo, dan Mbak Titi Setyoningsih, dosen FKIP Universitas Sebelas Maret yang lebih dulu saya kenal saat tergabung dengan Duta Cerita. Ketika menawarkan gagasan ini, saya hanya bilang bahwa "mungkin akan menyenangkan kalau kita bisa menyemangati para orang tua dan masyarakat pada umumnya untuk lebih cinta sama buku."
Mbak Asri dan Mbak Titi bukan orang baru diranah tulis menulis. Mereka sudah terbiasa menulis buku ajar bahkan novel. Sehingga bak gayung bersambut, mereka menyetujui untuk bersama- sama menginisiasi lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya. Visinya cukup sederhana 'Mulai dari Membaca Dukung Literasi Bahasa' Jadi ya nggak muluk- muluk. Suka baca dulu aja deh, mulai dari rumah, mulai dari menularkan ke anak sendiri, baru kita bergerak untuk menginfluence orang lain.
Sejarah singkat lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya ini, ditulis dengan apik oleh Mbak Mannisa, jurnalis Radar Solo, Jawa Pos yang menghubungi saya beberapa waktu lalu. Melalui sambungan telpon, ia bertanya dari awal bagaimana komunitas ini berdiri, program dan aktivitasnya, hingga cita- cita ke depan ke arah mana komunitas ini di bawa.
Sejujurnya, memang masih panjang untuk menjaga ke-konsistensi-an komunikasi dalam komunitas ini. Terlebih dengan situasi pandemi saat ini, rasanya setiap orang masih harus menahan diri berjumpa tatap muka. Tapi, kami akan mencoba perlahan, bagaimana semangat cinta buku ini bisa semakin tertularkan.
Jika saat ini kita mencari- cari figur teladan yang baik, maka dari buku Seri 10 Shahabiyah Wanita Mulia, kita akan menemukan sosok wanita yang luar biasa. Bukan cuma mulia akhlaknya, tapi juga kepatuhan dalam menjalankan perintah agama.
Seri 10 Shabiyah Wanita Mulia dari penerbit Ziyad Book.
Apa saja kelebihannya?
- Mendorong anak cinta pada Allah dan Rosul
- Penanaman karakter para wanita mulia
- Dilengkapi doa harian yang dapat dihapalkan
- Ilustrasi yang menarik dan fullcolor
- Disertai pesan hikmah untuk orang tua yang membantu ketika membacakan buku untuk anak.
Mau tidur adalah waktu bonding terbaik dengan Lila. Sembari cerita, kami membaca buku dengan kisah sederhana yang nggak perlu berat-berat mikir.
Kondisi anak yang rileks, justru bikin pesan cerita lebih masuk di ingatannya.
Paket Kisah Islami dari Penerbit Ziyad Books akan jadi pengantar tidur kami selama beberapa minggu ke depan. Dengan gambar ilustrasi akan membantu menstimulasi imajinasi anak.
Paket ini terdiri dari 3 judul buku :
1. Kisah Islami Pengantar Tidur Terbaik Sepanjang Masa
2. 30 Cerita Islami Terpopuler Sepanjang Masa
3. Aku Anak Saleh Berakhlak Mulia
Selengkapnya bisa cek instagram @ziyadbooks.official