Diundang kedua kalinya sebagai tamu talkshow di RRI Surakarta untuk ngobrolin aktivitas read aloud atau membaca nyaring. Saya juga berbagi cerita tentang perjalanan saya mengikuti Suara dan Aksi Perempuan Pelopor (SIAP) 2025 dan program edukasi yang saya bawa, “Dari Lisan ke Literasi.”
Saya menceritakan bagaimana ajang SIAP 2025 bukan sekadar kompetisi atau panggung presentasi gagasan, tetapi ruang bertemunya perempuan-perempuan dengan aksi nyata. Di sana, saya membawa praktik baik membaca nyaring atau #readaloud sebagai gerakan sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, perempuan, orang tua, guru, hingga pegiat literasi. Saya ingin menyampaikan bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan rumit. Ia bisa tumbuh dari suara yang dibagikan dengan penuh kesadaran dan cinta.
Dalam perbincangan itu, saya berbagi keyakinan bahwa membaca nyaring bukan sekadar membacakan teks. Ia adalah proses membangun kedekatan. Ketika orang tua membacakan buku untuk anak, yang terjadi bukan hanya transfer cerita, tetapi juga transfer rasa aman. Anak belajar mendengar, merespons, berimajinasi, sekaligus merasa diperhatikan. Dari situlah kecintaan pada buku mulai tumbuh. Dan ketika cinta sudah tumbuh, kebiasaan membaca akan lebih mudah terbentuk.
Saya juga menceritakan bagaimana praktik ini telah lama kami lakukan bersama teman-teman di Read Aloud Solo Raya. Di komunitas ini, kami percaya bahwa suara adalah jembatan menuju literasi. Aktivitas #membacanyaring yang dilakukan di rumah maupun di sekolah menjadi cara sederhana untuk menguatkan budaya membaca. Tidak harus lama, tidak harus sempurna, yang penting konsisten dan penuh kehadiran.
